Minggu, 02 Juni 2013

Manusia Hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan

Manusia Hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan

Kisah nyata / Pengalaman Penulis

ASSALAMUALAIKUM WR  WB

Selamat pagi, saya sebagai penulis ingin menceritakan yang sedang keluarga kami alami saat ini.
Saya adalah karyawan swasta yang baru menikah sekitar 10 bulan yang lalu. dan alhamdulillah bulan Juni ini kandungan istri saya sudah waktunya (bulannya). saya anak pertama dari empat bersaudara, Papa saya karyawan swasta yang kini bekerja proyek-proyek, Mama saya adalah ibu rumah tangga, adik saya yang pertama adalah mahasiswa semester 6 diperguruan tinggi swasta, adik kedua saya baru lulus SMK & adik saya yang ketiga adalah siswi sekolah dasar.

Kenapa saya memperkenalkan detail keluarga saya karena kami ingin menshare kepada pembaca bagaimana keluarga kami sedang berjuang. kita langsung saya menceritakan pengalaman keluarga kamu.
keluarga kami bisa di lihat dari finansial keluarga yang cukup & keluarga yang mempunyai track record baik (maaf kalo penulis kepedean karena selama saya lahir dan saya bekerja keluarga kami tidak pernah mempunyai masalah sama orang lain). 
Tahun 2012 setelah lebaran saya menikah (akad nikah dirumah istri saya) dan resepsinnya pada 3 bulan setelah akad dengan rencana yang matang karena saya dan istri saya menikah dengan uang kami sendiri selama setahun lebih, walaupun kami sudah membooking semua kelengkapan untuk resepsi. tp setelah 3 minggu kami melakukan akad nikah ternyata Allah memberikan hadiah kepada istri saya yaitu istri saya mengadung anak saya. Setelah kami sudah menikah di usia 2 bulan masalah langsung datang, pertama papa saya ketipu sama bisnis proyeknnya dengan nilai uang yang sangat besar dan disitu tidak hanya ada uang papa saya akan tetapi uang orang lain. tidak lama. Jujur keluarga kami kaget setelah beberapa dari sepupu dari papa saya datang dengan marah-marah padahal kami sekeluarga tidak tahu kalau papa saya meminjam uang kepada orang lain. dan tidak lama berselang beberapa orang datang untuk menagih utang yang papa saya pinjam, dengan nada marah menghina keluarga kami yang notabennya keluarga kami tidak tahu sama sekali utang-utang tsb apalagi keluarga kami tidak pernah melihat uang yang papa saya pinjam maupun mengambil uang tersebut. Hampir setiap hari keluarga kami di penuhi rasa ketakutan, saya selaku anak pertama tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun saya bekerja tapi penghasilan saya hanya untuk uang makan sehari keluarga saya dan beberapa saya tabung untuk mempersiapkan lahiran anak saya. hari demi hari banyak orang-orang datang dengan marah-marah menghina sampai-sampai membawa polisi untuk mengintimidasi keluarga kami. 
Beberapa utang dengan sepupuh keluarga papa saya makin ricuh. padahal papa saya ingin menganti tapi dia bilang akan menganti tapi tidak tahu kapan mengantinnya. oia saya belum menjelaskan kalo papa saya itu berasal dari betawi dengan lingkungan sekitar keluarga besar. sebenarnnya papa saya waktu masih jaman beliau mempunyai kelebihan banyak saudara2nya meminjam dan papa saya tidak pernah menagih apapun bentuknnya. setelah mereka tahu papa saya utang kepada mereka keluarga kami dihina di zolimi.
Dan akhirnya rencana yang saya dan istri saya rencanakan akhirnnya gagal. resepsi yang saya idam2kan dengan jerih payah sendiri akhirnya gagal total karena permasalahan keluarga saya sedang alami.
dan ibu dari mama saya menghujat kami walaupun papa saya meminjam uangnya sebesar 2.5 juta untuk biaya kuliah adik pertama saya. dan nenek saya selalu menghujat kepada keluarga saya karena uangnnya belum bisa kami berikan dan hal yang menyakitkan kami kalo nenek saya bilang kalo papa saya penipu, padahal papa saya dengan utang utangnnya itu tidak pernah berniat menipu hanya saja papa saya ingin mengembalikan tapi tanpa ada jangka waktu. 
hari demi hari beberapa orang terus datang dan datang, ada beberapa utang dari papa saya sudah mau deadline dan akhirnnya papa saya memutuskan menjual rumah dengan harga yang tidak layak. 
beberapa hari yang lalu kami akhirnnya memutuskan mengontrak dan memindahkan beberapa barang2 dan sebagian masih berada drmh kami. sembari menunggu uang yang akan di bayarkan rumah saya. dan sekarang kami menggapi dengan ikhlas dan tawakal dan berusah, walaupun banyak orang yang menzolimi keluarga kami dan menghina keluarga kami, padahal dulunnya keluarga kami selalu menolong mereka dana tidak pernah mengharapkan apa2 dari mereka.

Itu hanya curhatan emosi yang penulis sampaikan ketika kebaikan yang pernah dia perbuat dia hanya bisa melihatnnya bahkan melupakannya. Saya bersyukur di berikan  Ujian dari allah karena membuat saya termotivasi dan tahu apa arti kehidupan dan bersyukur kepada allah. karena saya yakin allah akan mengangkat derajat keluarga kami yang di limpahkan masalah yang begitu besar. seberapa berat masalah kita ingatlah kepada allah dan sayangilah keluarga.